I’m a dreamer . . .

Inilah aku . . .
Seorang pemuda, seorang penerjang, seorang pemimpi . . .
Seorang manusia lemah, yang hanya memiliki sebuah keyakinan,
sebagai bekal perjalanan hidupnya . . .

Keyakinan bahwa aku terlahir demi suatu tujuan
Tujuan yang telah Tuhan tuliskan dalam catatan-Nya
Tujuan yang akan membawaku mendapatkan keutuhan diriku
Tujuan yang akan menghadirkan kebahagiaan bagi semua yang kucinta
Sekalipun harus kulewati jutaan jalan penuh derita

Keyakinan bahwa sekalipun suatu saat aku terjatuh,
Itu bukanlah hal yang memalukan!
Aku mampu untuk kembali BANGKIT!
Dan itu adalah hal yang PASTI!

Bukan luka
Bukan juga derita
Bukan kematian pula yang aku takutkan
Hanya saja, waktu terus berjalan
Aku hanya takut aku tidak sempat
Tidak sempat untuk menciptakan senyuman di wajah mereka yang kucinta
Tidak sempat menghadirkan kebahagiaan di hati mereka
Tidak sempat mengubah impian ini menjadi nyata

Namun, aku tersadar
Tak ada waktu untuk mengkhawatirkan itu semua
Aku hanya perlu untuk terus melangkah,
Dan terus melangkah
Menerjang semua yang menghadang
Selagi jantung ini masihlah berdetak
Selagi nafas ini masihlah berhembus
Kan kuraih semua yang bisa kuraih!

Petunjuk Sang Malaikat

Petunjuk Sang Malaikat

 

Dalam dingin gelapnya malam snyi

Yang memeluk raga pemuda ini

Mengiris setiap sudut hati

Hingga menjerit batin memecah sunyi

Detik demi detik, tak pernah lelah ia menanti

 

Memang ia  terluka, mengenaskan, pantas tuk disakiti

Namun ia tetap menunggu kedatangan

Seorang malaikat penyelamat

Entah darimana malaikat itu berasal

Tak peduli dari langit, bumi, surga, ataupun neraka

Tuk membawa kembali sejuta harapan

Tuk menggali kembali permata yang terpendam

Tuk meyembuhkan semua luka yang telah tergoreskan

 

Hei sang malaikat penyelamat

Bawalah ia terbang bersamamu

Menembus awan yang sebelumnya tak pernah ia sentuh

Memetik bintang yang sebelumnya hanya mampu ia tujuk

Membelah langit yang sebelumnya hanya mampu dia tatap

Meraih segala yang ingin ia raih

 

Hingga suatu saat ia kan menyadari

Bahwa semua yang dia inginkan ialah hanya hadirmu dalam hidupnya . . .

 

Septian Adhi Tama

Senin, 17 Maret 2014 – 23.33 WIB

Memori Yang Terbangun . . .

Hallo semua, apa kabar ? Baik-baik saja kan? 😀

DI tengah malam ini saya ingin membagikan sebuah puisi yang saya tulisketika saya sedang insomnia. Beberapa hari yang lalu karena susah tidur dan bingung harus melakukan apa untuk mengisi kesunyian malam akhirnya saya putuskan untuk mengambil kertas dan menuliskan untaian kata yang ga jelas ini.

Puisi kali mengandung sedikit unsur cinta dan jatuh cinta. 😛 Cieee….. Ga tau kenapa kata-kata yang ditulis oleh tangan kanan saya ini akhirnya melahirkan sebuah puisi ga jelas ini. Sebelumnya pernah buat puisi cinta untuk tugas sekolah sih, waktu itu ketika saya masih kelas 8, guru Bahasa Indonesia saya memberi tugas untuk membuat puisi tema bebas dan jumlah terserah. Akhirnya saya membuat empat puisi ga jelas. 1 puisi cinta, 1 puisi galau tentang rasa rindu yang bisa ditujukan ke siapa saja, 1 puisi tema sosial, dan 1 puisi penyemangat dengan tema lebih ke friendship. 😛

Oke, daripada banyak cincong ini dia puisi terbaru saya, “Memori Yang Terbangun” . 😎

Di bawah langit berawan

Hembusan Angin lembut ciptakakan rasa nyaman

Suara anak manusia dengan teriakan

Berpadu, Menyatu, dalam sebuah hari dimana duainsan

Berdiri pada satu garis, buat suatu kenangan

Berdiri aku menatap kedepan

Suatu gelombang yang terasakan

Olehku bak melodi dalam nyanyian

Memanggil, menyentuh, meraih, menggetarkan

Sesuatu dalam dadaku yang  kemudian

Terasa begitu menyenangkan

Sepasang bola mata hitam kecoklatan

Yang berkilauan, menyilaukan

Buat pesona bintang olehku terlupakan

Helai-helai rambut yang berkilauan

Saling bergesekan, melantunkan suatu nyanyian

Bibir munyil merah merona dengan lengkungan

Terlihat begitu manis dalam pandangan

Yang kini tak sanggup teralihkan

Oh, Tuhan. . . 

Apa yang tengah aku rasakan?

Begitu menyenangkan

Dan dalam dadaku terjadi getaran

Menjelma dalam suatu ledakan

Yang kurasa dari dalam dada teralirkan

Menyerang seluruh saraf dalam raga penuh kelemahan

Bagai teracuni oleh zat kimia yang mencandukan

Oh Tuhan. . .

Apakah yang engkau ciptakan?

Malaikat itu, akankah ia selamatkan

seorang pemuda dalam dunia penuh kebohongan?

Malaikat itu, akankah ia indahkan

Detik-detik dalam hidup yang dipenuhi kerusakan?

Malaikat itu, akankah ia musnahkan

Segala rasa sakit, dalam hati yang kesepian?

SEPTIAN ADHI TAMA  (02.31 AM, 30 Mei 2013 )

Nah, itu dia puisi super ga jelas saya. Bagimana menurut anda? Konyol? Buruk? Lumayan? Yah, mohon maaf jika mengecewakan. Tapi saya mohon kritik dan saran dari anda semua. 🙂

Oke, itu dia puisi ga jelas yang saya bagikan kali ini. terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkunjung ke blog saya yang biasa-biasa saja ini. Sampai Jumpa. 😎

Harapan Bintang

hoshiHallo-hallo, semuanya apa kabar? Baik-baik saja kan? 😀

Kali ini saya posting lagi nih,setelah sebelumnya sempat posting puisi “Semut Kecil dan Butiran Pasir“, kali ini saya posting puisi abal-abal karya saya lagi di blog ini. Lagi-lagi ini adalah puisi yang saya buat ketika selesai mengerjakan soal. Namun, kali ini adalah soal Ujiian Sekolah mapel Bahasa Inggris, bukan skedar Try Out yang nilainya tidak masuk ijazah ataupun buku rapot. Entah kenapa sejak saat itu setiap kali saya selesai mengerjakan soal entah ujian atau ulangan selalu timbul hasrat untuk menulis puisi tentang apapun itu. :mrgreen:

Oke, puisi kali ini saya kira lebih simple dan tidak sepanjang “Semut Kecil dan Butiran Pasir“, kali ini langsung saja disimak… Harapan Bintang….. 😎

Hembusan angin

membelai lembut 

perlahan dan menyentuh

menaburkan benih-benih

rasa yang dulu sempat mati

kini bangun, hidup, dan bersemi kembali

Bersamaan dengan kedatangan dewi malam

Terasa dimulai getarannya

sengguh kurasa tiada tara 

Kini, telah menjelma menjadi rasa bahagia

yang sama sekali tak terbayangkan

Ku berterimakasih kepada-Nya

Ku bersyukur  kepada-Nya

Biarlah semua isi dalam hati

tersampaikan bersama jutaan bintang yang pergi

di pagi hari, dan tergantikan oleh satu mentari

Semua terimakasih ku,

atas kehendaknya-Nya

hadirkan seorang malaikat ,

dalam hidup hamba-Nya…..

Oke, bagaimana dengan puisi abal-abal saya yang kali ini? Jelek kah? Hahaa… bisa saya maklumi…  :mrgreen:

Ngomong-ngomong saya akan sangat senang apabila anda mau memberikan kritik dan saran di kolom komentar. Seperti biasa, terimakasih untuk waktu dan kunjungannya di blog ini… 😀

Semut Kecil dan Butiran Pasir

Hallo semua, apa kabar nih? lama saya gnggak posting di blog ini karna ada berbagai kegiatan yang mengaharuskan saya menghentikan sementara  kegiatan posting nge-blog. Maklum, saya kan PESBUK (Pelajar Super Sibuk). 😛 Oke, kali ini saya akan membagikan suatu puisi yang saya tulis ketika mengerjakan Tes Uji Coba alias TUC UN, atau istilah kerennya Try Out mata pelajaran IPA hari Kamis, tanggal 7 maret 2013 siang tadi. Tidak tahu kenapa, ketika mengerjakan soal TUC  IPA tersisa banyak waktu, masih sekitar satu setengah jam. Karna tidak tahu harus ngapain tiba-tiba hati saya memutuskan untuk menulis untaian kata di atas lembaran kertas buram yang seharusnya saya pakai untuk menghitung, dan mencar jawaban dari beberapa soal fisika. Oke, dan inilah puisi abal-abal saya…

Dalam malam, di tengah kegelapan,

Di antara ketakutan dan harapan,

Ku mencoba tuk bertahan,

Akankah rasa yang menjerit, tertahan,

meluap tuk terungkapkan…..

Aku coba tuk pahami anganku,

Tunjuk satu sinar, yang akan tuntun aku pada-Mu,

Musnahkan ssegala keraguanku,

Akan arti cahaya itu dalam hidupku,

Jika hari ini,

adalah saat yang kunanti,

dalam suatu hal yang kujalani,

Untuk tumpahkan seluruh rasa dalam hati,

Maka aku masih tak mengerti, sungguh tak mengerti,

Tentang diri ini, dan sesuatu dalam hati ini,

Mungkin hanya seekor semut kecil, yang lemah tanpa daya,

dan dalam hati ini hanyalah bagai butiran pasir dari pantai.

Namun aku tahu,

Semut kecil bukanlah satu-satunya,

Semut kecil dengan jutaan lebih kekuatan ,

Ketika semut kecil lain datang dalam kesatuan,

Menjadi satu dan tak terkalahkan,

Dan aku pun tahu,

dalam setiap diri semut, tak hanya sebutir pasir yang dimiliki,

Tapi jutaan pasir,

yang akan mampu menopang segalanya, di atasnya

Yang akan berikan kehidupan, dan terus bertahan,

dan terus tumbuhkan kebahagian.

Hingga telah tiba waktu dari sang semut kecil,

Untuk pulang, dan menutup segala lembaran kisahnya…..

Oke, itu tadi puisi abal-abal karya saya yang saya tulis berdasarkan hati pada saat Try Out UN mapel IPA. Sebenanya saya saat itu menulis dua puisi, dan ini adalah puisi yang kedua. Puisi yang pertama lebih pendek dari ini, jika ada waktu akan saya bagikan. Bagaimana menurut anda tentang puisi ini?

Sekian dan terimakasih atas waktu dan kunjungannya….. 😀

Puisi Terakhir (Bagian 2)

Esok harinya aku pergi ke sekolah, dengan berbagai pertanyaan yang terus mengikuti tentang mimpiku kemarin. Apa maksud dari semua itu? Pertanyaan itu terus memngusikku otakku. Hingga salah seorang sahabatku membuyarkan lamunanku,

“ Hay! Pagi-pagi ngelamun aja sob! Ada apa?”, tergur sahabat baikku itu.

“oh, lo ngagetin gue aja, ga ada apa-apa kok.” jawabku dengan senyum khasku,

“Ciyuuus? Kayaknya lo ga kayak biasanya, pagi-pagi gini kan lo biasanya dah gila, mules ya?” tanyanya lagi padaku tak percaya dengan apa yang kukatakan,

“jyah, wahai rafael sahabatku sayang yang alay, aku tidak apa-apa, percayalah! OK?” ujarku menyakinkannya.

“Oh, OK, bagus kalau begitu.”

Hari demi hari masih kujalani seperti biasa, berangkat sekolah, pergi ke rumah teman, mengerjakan berbagai tugas, dsb. Namun ada yang aneh, selama tiga hari terakhir Arvi tidak memberi kabar apapun padaku. Aku mulai khawatir dengannya, pesanku tidak dibalas, sedangkan aku belum sempat berkunjung kerumahnya. Kebetulan salah satu temanku ada yang satu perumahan dengannya, akupun berinisiatif untuk menanyakan kondisi Arvi.

“Putra!” panggilku kepada temanku yang juga merupakan tetangga Arvi, tepat sekali, baru dibatin sudah ketemu.

“Adit, ada apa? Tumben, kayak ada masalah? “

“iya nih, ada hal yang ingin kutanyakan, kamu tau kondisi Arvi? 3 hari terakhir dia tidak pernah membalas SMS ku.”

Itu dia dit, aku juga barusan cari kamu, aku juga mulai khawatir. Lebih baik kamu tengok dia secepatnya.”

“memangnya dia kenapa?” tanyaku heran melihat raut wajah Putra yang terlihat agak lesu.

“Maaf, aku ga bisa katakan ini dulu. Saranku kamu cepet datang kerumahnya.”

“Oh, OK. Makasih infonya”

“iya, sama-sama. Aku masuk kelas dulu ya” ucap putra.

“iya, silahkan” jawabku dengan senyum tipis.

Ku kendarai sepeda motorku dengan perasaan tidak tenang. Entah kenapa sejak mimpi aneh beberapa hari yang lalu hatiku tidak tenang. Aku pun menambah kecepatan motorku, sembari berharap bahwa Arvi baik-baik saja. Dan akhirnya akupun sampai di rumahnya, namun alangkah bingungnya aku melihat tante Rena yang terlihat seperti membereskan barang-barang seperti pakaian, tikar, termos, dsb.

“Assalamu’alaikum” salamku pada tante Rena.

“Wa’alaikum salam, eh adit. Ayo masuk dulu?”

“Iya tante, ngomong-ngomong tante mau kemna kok kayknya sibuk. Oh iya, Arvi dimana?”

tanyaku pada tante Rena tak sabar.

“…” tante Rena terdiam sambil menundukkan kepala.

“Tante? Tante baik-baik saja kan?” tanyaku memastikan keadaannya.

“Itu dia masalahnya dit, Arvi di RSU sekarang, kata dokter dia terkena tumor otak ” DEG! Jantungku terasa ingin meloncat dari dadaku mendengar keterangan tante Ena.

“Bahkan, ssa..saat in-ini sudah stadium 4” ucapnya terbata-bata. Keterangan tante Rena seolah membuat dadaku tertembus oleh peluru.

“Tapi tante, bukankah selama ini Arvi sehat-sehat saja! Tante bercanda kan?!” ucapku, akupun tak kuasa menahan air mata yang kini mengalir.

“Tante dan om Risno juga tidak tahu, selama ini kami pikir juga kondisi Arvi baik-baik saja. Mungkin ini adalah cobaan dari-Nya”

“Sejak kapan Tante? Kenapa tidak ada seorangpun yang memberitahuku?”

“Sebenarnya Arvi tidak ingin kamu tahu dulu, dia tidak ingin kamu sedih karenanya.”

“Baiklah, Tante mau ke RSU kan? Aku akan ikut, kumohon izinkanlah aku.” pintaku ada tante Rena.

“Baiklah, tante melarangmu juga kamu ga akan mau, lagipula sepertinya kamu benar-benar ingin bertemu Arvi. Ayo kita langsung berangkat”

“Arvi, kenapa kamu lakukan semua ini kepadaku? Aku merindukanmu dek. Jangan siksa batin ini” gumamku dalam perjalanan ke RSU.

 Akhirnya aku dan tante Rena sampai dirumah sakit. Menurut keterangan dari tante Rena dirawat di ruang Melati 7. Hatiku benar-benar tidak tenang, aku rindu padanya, dan aku juga khawatir padanya. Aku dan tante Rena mempercepat langkah. Kini aku telah sampai di depan pintu ruang tempat Arvi dirawat. Perasaanku makin kacau, ku persilakan tante Rena membuka pintunya. Kulihat Arvi terbaring lemah dengan selang infus di tangan kirinya, dia ditemani om Risno ayahnya. Aku tak kuasa menahan airmataku, melihat gadis yang begitu kucintai, yang menjadi semangat dan motivasi dalam hidupku terbaring lemah seperti ini.

 Ku kuatkan hatiku, melangkah lebih dekat menuju ranjangnya. Hatiku seolah tersayat oleh ribuan pisau tajam. Kini aku tak tau apa yang harus kukatakan, aku tak tahu harus memulai darimana. Semua isi otakku kini seolah hilang, yang kuingat hanyalah Arvi. Cinta, kenapa ini terjadi padamu?

 “Arvi, adit datang menjengukmu. Lihatlah” ucap tante Rena pada Arvi.

“Mas, kamu datang ya? Aku kangen kamu” ucap Arvi padaku.

“Iya dek, aku datang untuk kamu. Kenapa kamu ga kasih kabar ke aku?” ucapku lembut padanya, air mataku kini mengalis semakin deras. Ya Allah, berikanlah hamba-Mu kekuatan.

“Maaf mas, aku ga ingin kamu sedih karena aku.”

“Sudahlah dek, kamu gak perlu khawatir tentang aku, aku akan menjaga kamu. Kamu yang kuat ya”

“Iya mas, aku akan berusaha. Kamu jangan pergi ya.” ucapnya dengan senyum manisnya.

“Iya dek, aku ga akan pergi. Aku janji” jawabku pada Arvi, dibalik senyumnya kulihat kesedihan yang begitu mendalam.

Puisi Terakhir (Bagian 1), by Septian Adhi Tama

Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 00.45, dan aku masih belum bisa memejamkan mataku. Tak seperti kawula muda lainnya, yang menikmati malam minggu mereka dengan suka cita, aku hanya berdiam diri di kamarku. Sendirian tanpa cinta, itulah yang kualami. Air mata yang sedari tadi terus mengalir belum dapat kuhentikan. Mengingat segala kenangan indah dalam hidupku bersama seorang gadis cantik jelita, manis, dan menawan.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan tuk menghentikan air mata yang terus keluar dari mataku. Suara hujan deras beserta petir yang saling menyambar kian memperburuk suasana hatiku. Hingga akhirnya kuputuskan tuk menuliskan seluruh isi hati dalam secarik kertas seperti yang biasa aku lakukan dulu. Sembari otakku memutar memori-memori indah yang kini mustahil tuk terulang kembali.

1 bulan yang lalu….

Suara alarm handphone ku berhasil membangunkanku, pukul 04.45 pagi. Aku pun mulai beranjak dari tempat tidurku, pergi kebelakang dan mengambil air wudhu dan segera melaksanakan solat subuh. Setelah itu akupun segera mandi dan berkemas. Mengambil beberapa peralatan yang aku perlukan. Ya, aku memiliki janji dengan seseorang hari ini. Seorang teman, teman yang spesial di hatiku. Arvi namanya, seorang gadis yang aku kenal sejak duduk di bangku SMP, saat itu dia adik kelasku. Dia memintaku tuk mengajarkan beberapa tekhnik editing video untuk tugas sekolahnya.

Handphoneku berbunyi, tanda pesan masuk. Dari Arvi

“ Mas Adit, dah bangun belum? Jangan lupa solat subuh juga. Dan jangan lupakan janjimu, kamu bilang mau mengajariku mengedit video! Awas kalau tidak datang!”, aku hanya tersenyum dan segera membalas pesan darinya

“Aku sudah bangun dek, tenang saja. Solat juga sudah, aku segera ke rumahmu. Jam 8 aku sampai.”

Aku segera sarapan dan pamitan pada orang tuaku, segera ku hidupkan mesin motor dan pergi menuju rumah Arvi. Sekitar 30 menit kemudian aku sampai dirumahnya, kulirik arloji yang melekat di pergelangan tangan kananku, 08.00.

“Tepat waktu!” gumamku sambil tersenyum. Aku pun segera turun dari sepeda motor dan melangkah menuju pintu rumahnya.

“Assalamu’alaikum” ucapku sambil mengetuk pintu.Tak lama kemudian ibunya Arvi, tante Ena menjawab salamku

“Wa’alikumsalam. eh, Adit, tunggu sebentar Arvinya lagi mandi. Maaf ya” terang tante Ena.

”Iya tante,gak masalah kok.” balasku sambil tersenyum. Kemudian dipersilahkanlah aku duduk di ruang tamunya.

Sekitar 10 menit kemudian Arvi gadis cantik yang selalu kutunggu-tunggu kehadirannya muncul juga.

“Halo!” sapanya singkat padaku, “Halo juga! Kau ini, sudah kubilang aku sampai jam 8, kenapa ga persiapan?” balasku padanya dengan tatapan melotot yang sengaja kubuat-buat.

“ memang aku sengaja, hahaa” ledeknya kepadaku. “ya, terserah kamu lah. Kau itu 4 tahun tetap saja jahil”,

“Biarin, jahil-jahil begini juga kamu yang naksir aku duluan!”, belanya padaku.

“yah, kali ini kamu memang benar”, balasku padanya.

Sudah sekitar satu setengah jam aku bersamanya, kini aku hanya menunggu dia untuk menyelesaikan tugas pecobaan dariku. Aku mengajarkan beberapa tekhnik yang dibutuhkan, kuakui pemahamannya cukup bagus. Lebih dari yang aku pikirkan, akhirnya apa yang dikerjakannya selesai juga.

“ Mas, dah selesai nih, jangan ngelamun terus! Bagaimana menurutmu?”serunya padaku, “ Sebentar aku lihat” jawabku.

Mulai kuputar video yang dibuatnya, cukup bagus menurutku. Dalam videonya menampilkan sebuah puisi dengan iringan musik. Beberapa kata dalam puisi itu berhasil menggetarkan hatiku.

“ Itu untukmu, mas” ucapnya tiba-tiba memecah lamunanku,

“Maksudmu?” tanya ku penuh heran.

“ Kamu, tidak lihat? Semua isi di puisi itu adalah perasaanku untukmu! Bagiku kamulah yang terindah, bahkan aku sendiri tidak lebih indah dari kedipan matamu!”,

“Oh, jujur. Ini bagus menurutku, aku menyukainya. Kemampuan editing dan puisi berhaasil kamu padukan dengan indah, terus tingkatkan!” jawabku dengan senyuman padanya.

Pukul 10.30 aku pamitan dari rumah Arvi, namun sebenarnya aku tidak langsung pulang melainkan berkumpul bersama beberapa sahabat baikku yang rumahnya kebetulan masih 1 perumahan dengan Arvi.

Jam satu siang aku sampai dirumah, kuletakkan semua barangku. Seperti biasa, solat, lalu makan. Seperti itulah yang aku lakukan, setelah makan siang pun aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidurku, rasa lelah setelah beraktivitas ditambah dengan hawa pedesaan yang sejuk membuat mataku terpejamkan.

Aku merasa berada di tempat yang asing, langit malam, tanpa pepohonan, sepi, yang ada hanyalah hamparan padang pasir kosong, namun bintang-bintang dan bulan tetap menghiasi langit.

Berbagai pertanyaan terus muncul dalam otakku, dimanakah aku? Tak lama kemudian hal yang aneh terlihat, cahaya bulan itu meredup. Hingga akhirnya bulan tersebut lenyap dan kudengar suara yang sangat kukenal “ Selamat Tinggal Matahariku” hanya itulah yang kudengar hingga aku terbangun ketika orang tuaku mengetuk pintu kamar untuk membangunkanku.

Bersambung . . .