Kapan Mati? :O

Hallo-hallo…. saya kembali lagi dengan postingan ga penting (lagi). Hahaa… tadi saya iseng-iseng nih baca-baca dan lihat-lihat kegiatan saya di jejaring sosial facebook beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 16 September 2009. Dan terinspirasilah saya untuk menulis posting kali ini.

Hehee…  ketika saya melihat aktivitas lama saya di facebook ada satu kiriman yang menarik perhatian saya, yaitu mengenai ramalan kematian saya. 😀 Hahaa…Jujur saja saya gak percaya dengan yang namanya ramalan, tapi waktu itu berhubung saya anak SD yang lagi seneng-senengnya dengan kegiatan online , ya saya coba aja ikut kuis ramalan di facebook tentang “dimana kamu mati?”. Udahdeh saya coba jawab beberapa pertanyaan yang di sodorkan kepada saya, dan hasilnya prediksi kematian saya adalah pada tanggal 06 Juni 2021, penyebabnya  karena ditabrak mobil ketika nunggu pacar, berarti usia saya 23 tahun. Haduuuhhhhh… kalau saya pikir-pikir terasa benar-benar konyol. 🙄 Saya saja sampai ketawa-ketawa ga jelas mengingat masa lalu ketika saya masih benar-benar lugu. :mrgreen:

dimana dan kapan mati?

dimana dan kapan mati?

Yah, dibalik kekonyolan itu saya tetaplah tidak percaya dengan ramalan. Saya tetap berfpikir bahwa yang namanya kematian itu  sudah ditulis oleh Tuhan sejak jauh sebelumnya, dan itu akan menjadi rahasia besar yang hanya akan diketahui oleh-Nya. Daripada memikirkan kapan kita akan mati bukankah lebih baik memikirkan apa yang bisa kita lakukan selagi masih hidup? Kebaikan apa yang bisa kita lakukan untuk diri kita dan orang lain selain masih sempat? Yah, pada intinya adalah memaksimalkan manfaat dari hidup kita di dunia. Kalau selama hidup kita sudah melakukan yang terbaik, saya kira mati kapanpun, di manapun, dan karena apapun tidak akan jadi masalah untuk kita. 😎

Kematian adalah misteri, kematian adalah suatu awal baru menuju alam/dunia baru dimana kita nantinya akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di dunia. Jika waktu itu telah datang maka takkan ada lagi kesempatan untuk kita meminta perpanjangan waktu, karena memang kontrak kita di dunia telah habis. Misalkan kita terjatuh dari gedung lantai 10 tapi Tuhan belum menghendaki kita untuk pergi kita akan tetap hidup. Sebaliknya, apabila kita duduk santai di rumah tapi karena kontrak kita di dunia sudah habis ya mau tidak mau kita harus angkat kaki dari dunia ini. Saya pikir satu-satunya yang bisa membuat kita siap menghadapi kematian  adalah bagaimana kita ingat dan medekatkan diri kepada-Nya. 🙂

Pada intinya kita tidak perlu risau tentang sampai kapan kita akan hidup, yang perlu kita lakukan adalah untuk terus melakukan yang terbaik selama kita hidup. Sehingga dengan semua kebaikan yang telah kita lakukan, kita akan memiliki perbekalan yang cukup untuk menuju destinasi berikutnya dalam kisah kita. 🙂

Oke, sekian dulu cerita dari saya kali ini. Terimakasih telah berkunjung di blog ini. 😀

Iklan

Semut Kecil dan Butiran Pasir

Hallo semua, apa kabar nih? lama saya gnggak posting di blog ini karna ada berbagai kegiatan yang mengaharuskan saya menghentikan sementara  kegiatan posting nge-blog. Maklum, saya kan PESBUK (Pelajar Super Sibuk). 😛 Oke, kali ini saya akan membagikan suatu puisi yang saya tulis ketika mengerjakan Tes Uji Coba alias TUC UN, atau istilah kerennya Try Out mata pelajaran IPA hari Kamis, tanggal 7 maret 2013 siang tadi. Tidak tahu kenapa, ketika mengerjakan soal TUC  IPA tersisa banyak waktu, masih sekitar satu setengah jam. Karna tidak tahu harus ngapain tiba-tiba hati saya memutuskan untuk menulis untaian kata di atas lembaran kertas buram yang seharusnya saya pakai untuk menghitung, dan mencar jawaban dari beberapa soal fisika. Oke, dan inilah puisi abal-abal saya…

Dalam malam, di tengah kegelapan,

Di antara ketakutan dan harapan,

Ku mencoba tuk bertahan,

Akankah rasa yang menjerit, tertahan,

meluap tuk terungkapkan…..

Aku coba tuk pahami anganku,

Tunjuk satu sinar, yang akan tuntun aku pada-Mu,

Musnahkan ssegala keraguanku,

Akan arti cahaya itu dalam hidupku,

Jika hari ini,

adalah saat yang kunanti,

dalam suatu hal yang kujalani,

Untuk tumpahkan seluruh rasa dalam hati,

Maka aku masih tak mengerti, sungguh tak mengerti,

Tentang diri ini, dan sesuatu dalam hati ini,

Mungkin hanya seekor semut kecil, yang lemah tanpa daya,

dan dalam hati ini hanyalah bagai butiran pasir dari pantai.

Namun aku tahu,

Semut kecil bukanlah satu-satunya,

Semut kecil dengan jutaan lebih kekuatan ,

Ketika semut kecil lain datang dalam kesatuan,

Menjadi satu dan tak terkalahkan,

Dan aku pun tahu,

dalam setiap diri semut, tak hanya sebutir pasir yang dimiliki,

Tapi jutaan pasir,

yang akan mampu menopang segalanya, di atasnya

Yang akan berikan kehidupan, dan terus bertahan,

dan terus tumbuhkan kebahagian.

Hingga telah tiba waktu dari sang semut kecil,

Untuk pulang, dan menutup segala lembaran kisahnya…..

Oke, itu tadi puisi abal-abal karya saya yang saya tulis berdasarkan hati pada saat Try Out UN mapel IPA. Sebenanya saya saat itu menulis dua puisi, dan ini adalah puisi yang kedua. Puisi yang pertama lebih pendek dari ini, jika ada waktu akan saya bagikan. Bagaimana menurut anda tentang puisi ini?

Sekian dan terimakasih atas waktu dan kunjungannya….. 😀

Ini Boyband Atau Apa?

Halo semuanya, apa kabar? Saya harap semuanya dalam kondisi sehat wal afiat. Kali ini saya mau membagikan foto yang diambil oleh teman saya di sela-sela kegiatan pengambilan album kenangan kelas 9-B SMP Negeri 1 Pati. Yah, karena saya dan teman-teman yang belum mendapat giliran pengambilan gambar ya sudah, foto-foto sendiri dulu. Sebenarnya Ada banyak foto yang saya dan teman-teman ambil sendiri untuk koleksi saya dan teman-teman saya, namun baru 2 foto yang baru sempat di upload. Sekedar info nih, saya yang apaki baju biru. :mrgreen: Bagaimana menurut anda? Heheee……

HYAAA

Ini Boyband Atau Apa?

Ini sbenarnya saya dan teman-teman di imajinasinya kayak sedang ritual atau ngeluarin jurus begitu lho. Teman saya yang di tengah itu dia ceritanya seperti seseorang yang akan disegel atau ditahan oleh teman-temannya sendiri, atau bisa juga kalau dia itu sedang bersiap menerima kekuatan tambahan dari teman-temannya. Secara jelas maksudnya apa saya sendiri juga kurang ngerti, pokonya intinya saya dan teman-teman itu sedang melakukan sejenis ritual untuk mengeluarkan sebuah jurus. :mrgreen:

Jari Kelingking1

Kelompok Jari Kelingking

Geng jari keligking, kelompok/geng paling nggak jelas di kelas saya. Geng ini tidak pernah melakukan kejahatan. Yah, hanya sebuah bentuk ikatan persahabatan begitulah. Belajar bareng, ngobrol bareng, makan bareng, tolong menolong, dan jahil-menjahili, ya begitulah paling yang kami lakukan. Oh ya, setiap mau belajar bareng atau ngerjain tugas, pasti kita selalu persiapan puluhan permen dan snack untuk menemani belajar, seolah-olah hal tersebut telah menjadi konvensi atau peraturan tak tertulis yang selalu dilakukan di kelompok ini.

Photo0107

Saya Lagi Narsis, hehee…

Photo0108

Saya dan salah satu teman saya

UDATED!!!!!!!!! :

Saya tambahkan 4 foto lagi, Yang satu saya dan teman-teman cowok saya, yang dua pose bela diri pakai laptop atau apalah itu, yang satu lagi saya sendiri lagi narsis. :mrgreen: Ngomong-ngomong, kaki saya pendek ya?

Melindungi diri dengan laptop

Melindungi diri dengan laptop

Boyband Lagi Kah? :O

Boyband Lagi Kah? :O

Melindungi Diri dengan laptop -2-

Melindungi Diri dengan laptop -2-

Pose Bareng Panda Teman Saya

Pose Bareng Boneka Panda Teman Saya

Oke, sekian dulu yang saya bagikan untuk kali ini. Silahkan jangan malu-malu untuk berkomentar, dan terimakasih atas kunjungan anda. :mrgreen:

Sholat, Atau Disholati?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Halo kawan semua… 😀 Saya kembali lagi, kali ini saya akan berbagi sedikit tentang saya dan teman saya, hehee… Khusus tulisan kali ini saya akan membahas ibadah yang wajib dilakukan oleh umat muslim 5 kali sehari yaitu Sholat. Bagi anda yang beragama non-muslim juga silahkan untuk membaca jika berkenan. 😀

Saya menulis kali terinspirasi oleh salah seorang teman saya, yaitu Adib Nazim Ramadhan alias “Adib”. Jadi teman saya yang satu ini setiap kali istirahat kedua atau sebelum pelajaran tambahan kelas sembilan, yang memang bertepatan dengan waktu sholat dzuhur sering mengajak saya untuk pergi ke mushola, dan memang dia sering datang ketika saya juga mencari teman untuk pergi ke mushola. Seperti inilah yang dinamakan “Pucuk di cinta, ulam pun tiba” hehee…… :mrgreen: Dan selalu, setiap mengajak pergi mushola kalimat ini lah yang dia ucapkan, “Woy, Sholat ga? Apa mau ku sholatin ! Mushola yok!”, ya kira-kira begitulah yang dia ucapkan pada saya.

Selain  itu teman saya satu ini juga unik dan berani sekali. Kenapa saya bilang begitu? Karena dia sering melakukan hal-hal yang mungkin memang orang lain tidak berani melakukannya. Sering sekali, atau hampir terus saya kira, setiap kali ke mushola dan nggak ada sarung yang ngaggur ditambah waktuh istirahat yang sudah mepet dia memakai bawahan mukenah untuk sholat sebagai alternatif dari sarung, nggak peduli mushola saat itu ramai dan sepi. Hal ini juga kadang saya dan teman-teman lain ikut lakukan walau tidak sesering dia. Dan memang dia adalah pelopornya dalam menggunakan bawahan mukenah untuk alternatif sarung.  Soalnya ya memang hanya pada hari tertentu beberapa dari kami bisa bawa sarung, karena  barang bawaan tanpa sarung pun memang sudah banyak dan berat. :mrgreen:

“Tiada kata malu untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan”

-Septian Adhi Tama-

Dari apa yang teman saya lakukan itulah akhirnya saya menyimpulkan hal itu. :mrgreen: Memang benar kan? Siapapun anda, apapun kepercayaan anda, apapun agama anda, tiada kata malu dan tiada alasan malu untuk terus beribadah dan mendekatkan diri pada Tuhan. Karena memang apa yang kita lakukan bukanlah hal yang salah, dan memang yang kita lakukan adalah sesuatu hal yang benar. Teman saya yang ini setiap ada orang menertawakan dia gara-gara memakai bawahan mukenah waktu shola dia enjoy saja tuh. Karena memang apa yang dia lakukan memanglah bukan suatu kesalahan, dan memang karena apa yang di lakukan untuk beribadah pada Tuhan.

Ingatlah, waktu kita hidup di dunia tidaklah panjang, dan saya rasa anda pun telah tahu menganai hal itu. Jadi memang yang perlu kita lakukan adalah bertindak segala yang baik untuk yang terbaik, dan dalam perjalanan hidup dan menjadi yang baik itulah kita memerlukan bimbingan-Nya. Sebelum waktu kita habis mari berbuat banyak kebaikan dan terus mendekatkan diri kepada Tuhan, karena segala perbuatan kita akan kita pertanggung jawabkan di sana kelak kepada Tuhan. 😀

Saya tambahkan hadist mengenai Sholat sebagai tiang agama bagi agama Islam :

  • Hadis 1

عن أبي جعفر عليه السلام قال: بني الاسلام على خمسة أشياء: على الصلاة، والزكاة، والحج، والصوم، والولاية

Dari Abi Ja’far (Imam Baqir) as berkata:

“Islam dibangun di atas lima hal: Shalat, zakat, haji, puasa dan wilayah (kepemimpinan atau imamah).” [Bihar, jilid 79, hal 234]

  • Hadist 2

عن أبي جعفر عليه السلام قال: الصلاة عمود الدين، مثلها كمثل عمود الفسطاط إذا ثبت العمود ثبتت الاوتاد والاطناب، وإذا مال العمود وانكسر لم يثبت وتد ولا طنب

Dari Abi Ja’far as berkata:

“Shalat adalah tiang agama, perumpamaannya seperti tiang kemah, bila tiangnya kokoh maka paku dan talinya akan kokoh, dan bila tiangnya miring dan patah maka paku dan talinya pun tidak akan tegak.” [Bihar, jilid 82, hal 218]

Sekian tulisan saya kali ini, mohon maaf apabila ada kesalahan kata. Terimakasih telah bersedia berkunjung disini dan membaca tulisan ini.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Itik Ini doyan Rambutan Lho! :D

Bebek Peliharaan :D

Itik Peliharaan 😀 -Unnamed 1, -Unnamed 2

Hallo kawan! Mau share lagi nih, kali ini saya mau sharing mengenai dua ekor itikk peliharaan di rumah saya. 😀 Sebut saja “Unnamed 1”, dan “Unnamed 2”.

Bebek ini sudah berada di rumah, tepatnya pekarangan rumah saya sekitar satu setengah tahun lalu. Awal kisah itik itu adalah pemberian dari om saya yang memiliki usaha penetasan telur itik. Ayah, Ibu, dan Keponakan saya yang belum genap berusia satu tahun pergi ke rumah om saya dan pulang membawa 4 ekor anak itik yang masih kecil-kecil, dan lagi unyu-unyunya. 😀 Kata orang tua saya sih keponakan saya yang lihat anak-anak itik itu, dan kelihatannya menyukainya. Melihat hal tersebut om dan tante saya pun berinisiatif unutuk memberikan empat ekor anak itik unyu-unyu. 

Sampai di rumah ditaruhlah empat anak itik ditaruh di ember (soalnya masih kecil), waktu ditarus di ember bukannya mendapat ketenangan, empat anak itik itu malah mendapat teror dari keponakan saya, dipencet lah, dipakai mainan lah, di dorong-dorong, ditarik-tarik-tarik, dan aksi-aksi penyiksaan kejam lainnya pun dilakukan. Untuk mengamankan empat anak itik malang itu, mereka pun ditaruh di tempat yang lebih tinggi jauh dari jangkauan predator, dan keponakan saya yang bisa mengancam nyawa mereka kapan saja. XD Setelah dirasa sudah cukup umur untuk  menghadapi alam yang kejam (lebay), merekapun dipindahkan ke pekarangan rumah saya dan areanya dibatasi oleh pagar-pagar bambu.

Beberapa bulan kemudian seekor itik sebut saja “Unnamed 3” hilang dan tidak ditemukan sampai sekarang, berita duka ini disusul beberapa bulan kemudian dengan kabar tewasnya “Unnamed 4”. 😦 Namun, tahukah anda? Bahwa itik-itik tersebut telah menyumbangkan beberapa telur untuk keluarga saya konsumsi. 😀 Hehee…

Tahukah anda bahwa kedua itik yang tersisa yaitu “Unnamed 1” dan “Unnamed 2” doyan dengan buah rambutan? Yup, benar mereka doyan, atau mungkin bisa dibilang menyukai rambutan. Terbukti ketika saya makan dan melempar bijinya ke arae mereka, dengan sigap langsung diserbu biji buah rambutan itu untuk dimakan sisa-sisa daging buah rambutan yang menempel di bijinya. Dan yang saya sayangkan adalah, setiap kali berebutan buah rambutan selalu “Unnamed 1” lah pemenangnya, ketika saya merasa kasihan dan memberi buah rambutan lagi  kepada “Unnamed 2” pun, hasilnya tetap saja “Unnamed 1” yang mendapatkannya. Dan “Unnamed 2” pun hanya bisa pasrah meratapi nasibnya. 😀

Oke, sekian cerita saya kali ini, terimakasih.

Puisi Terakhir (Bagian 2)

Esok harinya aku pergi ke sekolah, dengan berbagai pertanyaan yang terus mengikuti tentang mimpiku kemarin. Apa maksud dari semua itu? Pertanyaan itu terus memngusikku otakku. Hingga salah seorang sahabatku membuyarkan lamunanku,

“ Hay! Pagi-pagi ngelamun aja sob! Ada apa?”, tergur sahabat baikku itu.

“oh, lo ngagetin gue aja, ga ada apa-apa kok.” jawabku dengan senyum khasku,

“Ciyuuus? Kayaknya lo ga kayak biasanya, pagi-pagi gini kan lo biasanya dah gila, mules ya?” tanyanya lagi padaku tak percaya dengan apa yang kukatakan,

“jyah, wahai rafael sahabatku sayang yang alay, aku tidak apa-apa, percayalah! OK?” ujarku menyakinkannya.

“Oh, OK, bagus kalau begitu.”

Hari demi hari masih kujalani seperti biasa, berangkat sekolah, pergi ke rumah teman, mengerjakan berbagai tugas, dsb. Namun ada yang aneh, selama tiga hari terakhir Arvi tidak memberi kabar apapun padaku. Aku mulai khawatir dengannya, pesanku tidak dibalas, sedangkan aku belum sempat berkunjung kerumahnya. Kebetulan salah satu temanku ada yang satu perumahan dengannya, akupun berinisiatif untuk menanyakan kondisi Arvi.

“Putra!” panggilku kepada temanku yang juga merupakan tetangga Arvi, tepat sekali, baru dibatin sudah ketemu.

“Adit, ada apa? Tumben, kayak ada masalah? “

“iya nih, ada hal yang ingin kutanyakan, kamu tau kondisi Arvi? 3 hari terakhir dia tidak pernah membalas SMS ku.”

Itu dia dit, aku juga barusan cari kamu, aku juga mulai khawatir. Lebih baik kamu tengok dia secepatnya.”

“memangnya dia kenapa?” tanyaku heran melihat raut wajah Putra yang terlihat agak lesu.

“Maaf, aku ga bisa katakan ini dulu. Saranku kamu cepet datang kerumahnya.”

“Oh, OK. Makasih infonya”

“iya, sama-sama. Aku masuk kelas dulu ya” ucap putra.

“iya, silahkan” jawabku dengan senyum tipis.

Ku kendarai sepeda motorku dengan perasaan tidak tenang. Entah kenapa sejak mimpi aneh beberapa hari yang lalu hatiku tidak tenang. Aku pun menambah kecepatan motorku, sembari berharap bahwa Arvi baik-baik saja. Dan akhirnya akupun sampai di rumahnya, namun alangkah bingungnya aku melihat tante Rena yang terlihat seperti membereskan barang-barang seperti pakaian, tikar, termos, dsb.

“Assalamu’alaikum” salamku pada tante Rena.

“Wa’alaikum salam, eh adit. Ayo masuk dulu?”

“Iya tante, ngomong-ngomong tante mau kemna kok kayknya sibuk. Oh iya, Arvi dimana?”

tanyaku pada tante Rena tak sabar.

“…” tante Rena terdiam sambil menundukkan kepala.

“Tante? Tante baik-baik saja kan?” tanyaku memastikan keadaannya.

“Itu dia masalahnya dit, Arvi di RSU sekarang, kata dokter dia terkena tumor otak ” DEG! Jantungku terasa ingin meloncat dari dadaku mendengar keterangan tante Ena.

“Bahkan, ssa..saat in-ini sudah stadium 4” ucapnya terbata-bata. Keterangan tante Rena seolah membuat dadaku tertembus oleh peluru.

“Tapi tante, bukankah selama ini Arvi sehat-sehat saja! Tante bercanda kan?!” ucapku, akupun tak kuasa menahan air mata yang kini mengalir.

“Tante dan om Risno juga tidak tahu, selama ini kami pikir juga kondisi Arvi baik-baik saja. Mungkin ini adalah cobaan dari-Nya”

“Sejak kapan Tante? Kenapa tidak ada seorangpun yang memberitahuku?”

“Sebenarnya Arvi tidak ingin kamu tahu dulu, dia tidak ingin kamu sedih karenanya.”

“Baiklah, Tante mau ke RSU kan? Aku akan ikut, kumohon izinkanlah aku.” pintaku ada tante Rena.

“Baiklah, tante melarangmu juga kamu ga akan mau, lagipula sepertinya kamu benar-benar ingin bertemu Arvi. Ayo kita langsung berangkat”

“Arvi, kenapa kamu lakukan semua ini kepadaku? Aku merindukanmu dek. Jangan siksa batin ini” gumamku dalam perjalanan ke RSU.

 Akhirnya aku dan tante Rena sampai dirumah sakit. Menurut keterangan dari tante Rena dirawat di ruang Melati 7. Hatiku benar-benar tidak tenang, aku rindu padanya, dan aku juga khawatir padanya. Aku dan tante Rena mempercepat langkah. Kini aku telah sampai di depan pintu ruang tempat Arvi dirawat. Perasaanku makin kacau, ku persilakan tante Rena membuka pintunya. Kulihat Arvi terbaring lemah dengan selang infus di tangan kirinya, dia ditemani om Risno ayahnya. Aku tak kuasa menahan airmataku, melihat gadis yang begitu kucintai, yang menjadi semangat dan motivasi dalam hidupku terbaring lemah seperti ini.

 Ku kuatkan hatiku, melangkah lebih dekat menuju ranjangnya. Hatiku seolah tersayat oleh ribuan pisau tajam. Kini aku tak tau apa yang harus kukatakan, aku tak tahu harus memulai darimana. Semua isi otakku kini seolah hilang, yang kuingat hanyalah Arvi. Cinta, kenapa ini terjadi padamu?

 “Arvi, adit datang menjengukmu. Lihatlah” ucap tante Rena pada Arvi.

“Mas, kamu datang ya? Aku kangen kamu” ucap Arvi padaku.

“Iya dek, aku datang untuk kamu. Kenapa kamu ga kasih kabar ke aku?” ucapku lembut padanya, air mataku kini mengalis semakin deras. Ya Allah, berikanlah hamba-Mu kekuatan.

“Maaf mas, aku ga ingin kamu sedih karena aku.”

“Sudahlah dek, kamu gak perlu khawatir tentang aku, aku akan menjaga kamu. Kamu yang kuat ya”

“Iya mas, aku akan berusaha. Kamu jangan pergi ya.” ucapnya dengan senyum manisnya.

“Iya dek, aku ga akan pergi. Aku janji” jawabku pada Arvi, dibalik senyumnya kulihat kesedihan yang begitu mendalam.

Puisi Terakhir (Bagian 1), by Septian Adhi Tama

Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 00.45, dan aku masih belum bisa memejamkan mataku. Tak seperti kawula muda lainnya, yang menikmati malam minggu mereka dengan suka cita, aku hanya berdiam diri di kamarku. Sendirian tanpa cinta, itulah yang kualami. Air mata yang sedari tadi terus mengalir belum dapat kuhentikan. Mengingat segala kenangan indah dalam hidupku bersama seorang gadis cantik jelita, manis, dan menawan.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan tuk menghentikan air mata yang terus keluar dari mataku. Suara hujan deras beserta petir yang saling menyambar kian memperburuk suasana hatiku. Hingga akhirnya kuputuskan tuk menuliskan seluruh isi hati dalam secarik kertas seperti yang biasa aku lakukan dulu. Sembari otakku memutar memori-memori indah yang kini mustahil tuk terulang kembali.

1 bulan yang lalu….

Suara alarm handphone ku berhasil membangunkanku, pukul 04.45 pagi. Aku pun mulai beranjak dari tempat tidurku, pergi kebelakang dan mengambil air wudhu dan segera melaksanakan solat subuh. Setelah itu akupun segera mandi dan berkemas. Mengambil beberapa peralatan yang aku perlukan. Ya, aku memiliki janji dengan seseorang hari ini. Seorang teman, teman yang spesial di hatiku. Arvi namanya, seorang gadis yang aku kenal sejak duduk di bangku SMP, saat itu dia adik kelasku. Dia memintaku tuk mengajarkan beberapa tekhnik editing video untuk tugas sekolahnya.

Handphoneku berbunyi, tanda pesan masuk. Dari Arvi

“ Mas Adit, dah bangun belum? Jangan lupa solat subuh juga. Dan jangan lupakan janjimu, kamu bilang mau mengajariku mengedit video! Awas kalau tidak datang!”, aku hanya tersenyum dan segera membalas pesan darinya

“Aku sudah bangun dek, tenang saja. Solat juga sudah, aku segera ke rumahmu. Jam 8 aku sampai.”

Aku segera sarapan dan pamitan pada orang tuaku, segera ku hidupkan mesin motor dan pergi menuju rumah Arvi. Sekitar 30 menit kemudian aku sampai dirumahnya, kulirik arloji yang melekat di pergelangan tangan kananku, 08.00.

“Tepat waktu!” gumamku sambil tersenyum. Aku pun segera turun dari sepeda motor dan melangkah menuju pintu rumahnya.

“Assalamu’alaikum” ucapku sambil mengetuk pintu.Tak lama kemudian ibunya Arvi, tante Ena menjawab salamku

“Wa’alikumsalam. eh, Adit, tunggu sebentar Arvinya lagi mandi. Maaf ya” terang tante Ena.

”Iya tante,gak masalah kok.” balasku sambil tersenyum. Kemudian dipersilahkanlah aku duduk di ruang tamunya.

Sekitar 10 menit kemudian Arvi gadis cantik yang selalu kutunggu-tunggu kehadirannya muncul juga.

“Halo!” sapanya singkat padaku, “Halo juga! Kau ini, sudah kubilang aku sampai jam 8, kenapa ga persiapan?” balasku padanya dengan tatapan melotot yang sengaja kubuat-buat.

“ memang aku sengaja, hahaa” ledeknya kepadaku. “ya, terserah kamu lah. Kau itu 4 tahun tetap saja jahil”,

“Biarin, jahil-jahil begini juga kamu yang naksir aku duluan!”, belanya padaku.

“yah, kali ini kamu memang benar”, balasku padanya.

Sudah sekitar satu setengah jam aku bersamanya, kini aku hanya menunggu dia untuk menyelesaikan tugas pecobaan dariku. Aku mengajarkan beberapa tekhnik yang dibutuhkan, kuakui pemahamannya cukup bagus. Lebih dari yang aku pikirkan, akhirnya apa yang dikerjakannya selesai juga.

“ Mas, dah selesai nih, jangan ngelamun terus! Bagaimana menurutmu?”serunya padaku, “ Sebentar aku lihat” jawabku.

Mulai kuputar video yang dibuatnya, cukup bagus menurutku. Dalam videonya menampilkan sebuah puisi dengan iringan musik. Beberapa kata dalam puisi itu berhasil menggetarkan hatiku.

“ Itu untukmu, mas” ucapnya tiba-tiba memecah lamunanku,

“Maksudmu?” tanya ku penuh heran.

“ Kamu, tidak lihat? Semua isi di puisi itu adalah perasaanku untukmu! Bagiku kamulah yang terindah, bahkan aku sendiri tidak lebih indah dari kedipan matamu!”,

“Oh, jujur. Ini bagus menurutku, aku menyukainya. Kemampuan editing dan puisi berhaasil kamu padukan dengan indah, terus tingkatkan!” jawabku dengan senyuman padanya.

Pukul 10.30 aku pamitan dari rumah Arvi, namun sebenarnya aku tidak langsung pulang melainkan berkumpul bersama beberapa sahabat baikku yang rumahnya kebetulan masih 1 perumahan dengan Arvi.

Jam satu siang aku sampai dirumah, kuletakkan semua barangku. Seperti biasa, solat, lalu makan. Seperti itulah yang aku lakukan, setelah makan siang pun aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidurku, rasa lelah setelah beraktivitas ditambah dengan hawa pedesaan yang sejuk membuat mataku terpejamkan.

Aku merasa berada di tempat yang asing, langit malam, tanpa pepohonan, sepi, yang ada hanyalah hamparan padang pasir kosong, namun bintang-bintang dan bulan tetap menghiasi langit.

Berbagai pertanyaan terus muncul dalam otakku, dimanakah aku? Tak lama kemudian hal yang aneh terlihat, cahaya bulan itu meredup. Hingga akhirnya bulan tersebut lenyap dan kudengar suara yang sangat kukenal “ Selamat Tinggal Matahariku” hanya itulah yang kudengar hingga aku terbangun ketika orang tuaku mengetuk pintu kamar untuk membangunkanku.

Bersambung . . .