Puisi Terakhir (Bagian 2)

Esok harinya aku pergi ke sekolah, dengan berbagai pertanyaan yang terus mengikuti tentang mimpiku kemarin. Apa maksud dari semua itu? Pertanyaan itu terus memngusikku otakku. Hingga salah seorang sahabatku membuyarkan lamunanku,

“ Hay! Pagi-pagi ngelamun aja sob! Ada apa?”, tergur sahabat baikku itu.

“oh, lo ngagetin gue aja, ga ada apa-apa kok.” jawabku dengan senyum khasku,

“Ciyuuus? Kayaknya lo ga kayak biasanya, pagi-pagi gini kan lo biasanya dah gila, mules ya?” tanyanya lagi padaku tak percaya dengan apa yang kukatakan,

“jyah, wahai rafael sahabatku sayang yang alay, aku tidak apa-apa, percayalah! OK?” ujarku menyakinkannya.

“Oh, OK, bagus kalau begitu.”

Hari demi hari masih kujalani seperti biasa, berangkat sekolah, pergi ke rumah teman, mengerjakan berbagai tugas, dsb. Namun ada yang aneh, selama tiga hari terakhir Arvi tidak memberi kabar apapun padaku. Aku mulai khawatir dengannya, pesanku tidak dibalas, sedangkan aku belum sempat berkunjung kerumahnya. Kebetulan salah satu temanku ada yang satu perumahan dengannya, akupun berinisiatif untuk menanyakan kondisi Arvi.

“Putra!” panggilku kepada temanku yang juga merupakan tetangga Arvi, tepat sekali, baru dibatin sudah ketemu.

“Adit, ada apa? Tumben, kayak ada masalah? “

“iya nih, ada hal yang ingin kutanyakan, kamu tau kondisi Arvi? 3 hari terakhir dia tidak pernah membalas SMS ku.”

Itu dia dit, aku juga barusan cari kamu, aku juga mulai khawatir. Lebih baik kamu tengok dia secepatnya.”

“memangnya dia kenapa?” tanyaku heran melihat raut wajah Putra yang terlihat agak lesu.

“Maaf, aku ga bisa katakan ini dulu. Saranku kamu cepet datang kerumahnya.”

“Oh, OK. Makasih infonya”

“iya, sama-sama. Aku masuk kelas dulu ya” ucap putra.

“iya, silahkan” jawabku dengan senyum tipis.

Ku kendarai sepeda motorku dengan perasaan tidak tenang. Entah kenapa sejak mimpi aneh beberapa hari yang lalu hatiku tidak tenang. Aku pun menambah kecepatan motorku, sembari berharap bahwa Arvi baik-baik saja. Dan akhirnya akupun sampai di rumahnya, namun alangkah bingungnya aku melihat tante Rena yang terlihat seperti membereskan barang-barang seperti pakaian, tikar, termos, dsb.

“Assalamu’alaikum” salamku pada tante Rena.

“Wa’alaikum salam, eh adit. Ayo masuk dulu?”

“Iya tante, ngomong-ngomong tante mau kemna kok kayknya sibuk. Oh iya, Arvi dimana?”

tanyaku pada tante Rena tak sabar.

“…” tante Rena terdiam sambil menundukkan kepala.

“Tante? Tante baik-baik saja kan?” tanyaku memastikan keadaannya.

“Itu dia masalahnya dit, Arvi di RSU sekarang, kata dokter dia terkena tumor otak ” DEG! Jantungku terasa ingin meloncat dari dadaku mendengar keterangan tante Ena.

“Bahkan, ssa..saat in-ini sudah stadium 4” ucapnya terbata-bata. Keterangan tante Rena seolah membuat dadaku tertembus oleh peluru.

“Tapi tante, bukankah selama ini Arvi sehat-sehat saja! Tante bercanda kan?!” ucapku, akupun tak kuasa menahan air mata yang kini mengalir.

“Tante dan om Risno juga tidak tahu, selama ini kami pikir juga kondisi Arvi baik-baik saja. Mungkin ini adalah cobaan dari-Nya”

“Sejak kapan Tante? Kenapa tidak ada seorangpun yang memberitahuku?”

“Sebenarnya Arvi tidak ingin kamu tahu dulu, dia tidak ingin kamu sedih karenanya.”

“Baiklah, Tante mau ke RSU kan? Aku akan ikut, kumohon izinkanlah aku.” pintaku ada tante Rena.

“Baiklah, tante melarangmu juga kamu ga akan mau, lagipula sepertinya kamu benar-benar ingin bertemu Arvi. Ayo kita langsung berangkat”

“Arvi, kenapa kamu lakukan semua ini kepadaku? Aku merindukanmu dek. Jangan siksa batin ini” gumamku dalam perjalanan ke RSU.

 Akhirnya aku dan tante Rena sampai dirumah sakit. Menurut keterangan dari tante Rena dirawat di ruang Melati 7. Hatiku benar-benar tidak tenang, aku rindu padanya, dan aku juga khawatir padanya. Aku dan tante Rena mempercepat langkah. Kini aku telah sampai di depan pintu ruang tempat Arvi dirawat. Perasaanku makin kacau, ku persilakan tante Rena membuka pintunya. Kulihat Arvi terbaring lemah dengan selang infus di tangan kirinya, dia ditemani om Risno ayahnya. Aku tak kuasa menahan airmataku, melihat gadis yang begitu kucintai, yang menjadi semangat dan motivasi dalam hidupku terbaring lemah seperti ini.

 Ku kuatkan hatiku, melangkah lebih dekat menuju ranjangnya. Hatiku seolah tersayat oleh ribuan pisau tajam. Kini aku tak tau apa yang harus kukatakan, aku tak tahu harus memulai darimana. Semua isi otakku kini seolah hilang, yang kuingat hanyalah Arvi. Cinta, kenapa ini terjadi padamu?

 “Arvi, adit datang menjengukmu. Lihatlah” ucap tante Rena pada Arvi.

“Mas, kamu datang ya? Aku kangen kamu” ucap Arvi padaku.

“Iya dek, aku datang untuk kamu. Kenapa kamu ga kasih kabar ke aku?” ucapku lembut padanya, air mataku kini mengalis semakin deras. Ya Allah, berikanlah hamba-Mu kekuatan.

“Maaf mas, aku ga ingin kamu sedih karena aku.”

“Sudahlah dek, kamu gak perlu khawatir tentang aku, aku akan menjaga kamu. Kamu yang kuat ya”

“Iya mas, aku akan berusaha. Kamu jangan pergi ya.” ucapnya dengan senyum manisnya.

“Iya dek, aku ga akan pergi. Aku janji” jawabku pada Arvi, dibalik senyumnya kulihat kesedihan yang begitu mendalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s