Puisi Terakhir (Bagian 1), by Septian Adhi Tama

Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 00.45, dan aku masih belum bisa memejamkan mataku. Tak seperti kawula muda lainnya, yang menikmati malam minggu mereka dengan suka cita, aku hanya berdiam diri di kamarku. Sendirian tanpa cinta, itulah yang kualami. Air mata yang sedari tadi terus mengalir belum dapat kuhentikan. Mengingat segala kenangan indah dalam hidupku bersama seorang gadis cantik jelita, manis, dan menawan.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan tuk menghentikan air mata yang terus keluar dari mataku. Suara hujan deras beserta petir yang saling menyambar kian memperburuk suasana hatiku. Hingga akhirnya kuputuskan tuk menuliskan seluruh isi hati dalam secarik kertas seperti yang biasa aku lakukan dulu. Sembari otakku memutar memori-memori indah yang kini mustahil tuk terulang kembali.

1 bulan yang lalu….

Suara alarm handphone ku berhasil membangunkanku, pukul 04.45 pagi. Aku pun mulai beranjak dari tempat tidurku, pergi kebelakang dan mengambil air wudhu dan segera melaksanakan solat subuh. Setelah itu akupun segera mandi dan berkemas. Mengambil beberapa peralatan yang aku perlukan. Ya, aku memiliki janji dengan seseorang hari ini. Seorang teman, teman yang spesial di hatiku. Arvi namanya, seorang gadis yang aku kenal sejak duduk di bangku SMP, saat itu dia adik kelasku. Dia memintaku tuk mengajarkan beberapa tekhnik editing video untuk tugas sekolahnya.

Handphoneku berbunyi, tanda pesan masuk. Dari Arvi

“ Mas Adit, dah bangun belum? Jangan lupa solat subuh juga. Dan jangan lupakan janjimu, kamu bilang mau mengajariku mengedit video! Awas kalau tidak datang!”, aku hanya tersenyum dan segera membalas pesan darinya

“Aku sudah bangun dek, tenang saja. Solat juga sudah, aku segera ke rumahmu. Jam 8 aku sampai.”

Aku segera sarapan dan pamitan pada orang tuaku, segera ku hidupkan mesin motor dan pergi menuju rumah Arvi. Sekitar 30 menit kemudian aku sampai dirumahnya, kulirik arloji yang melekat di pergelangan tangan kananku, 08.00.

“Tepat waktu!” gumamku sambil tersenyum. Aku pun segera turun dari sepeda motor dan melangkah menuju pintu rumahnya.

“Assalamu’alaikum” ucapku sambil mengetuk pintu.Tak lama kemudian ibunya Arvi, tante Ena menjawab salamku

“Wa’alikumsalam. eh, Adit, tunggu sebentar Arvinya lagi mandi. Maaf ya” terang tante Ena.

”Iya tante,gak masalah kok.” balasku sambil tersenyum. Kemudian dipersilahkanlah aku duduk di ruang tamunya.

Sekitar 10 menit kemudian Arvi gadis cantik yang selalu kutunggu-tunggu kehadirannya muncul juga.

“Halo!” sapanya singkat padaku, “Halo juga! Kau ini, sudah kubilang aku sampai jam 8, kenapa ga persiapan?” balasku padanya dengan tatapan melotot yang sengaja kubuat-buat.

“ memang aku sengaja, hahaa” ledeknya kepadaku. “ya, terserah kamu lah. Kau itu 4 tahun tetap saja jahil”,

“Biarin, jahil-jahil begini juga kamu yang naksir aku duluan!”, belanya padaku.

“yah, kali ini kamu memang benar”, balasku padanya.

Sudah sekitar satu setengah jam aku bersamanya, kini aku hanya menunggu dia untuk menyelesaikan tugas pecobaan dariku. Aku mengajarkan beberapa tekhnik yang dibutuhkan, kuakui pemahamannya cukup bagus. Lebih dari yang aku pikirkan, akhirnya apa yang dikerjakannya selesai juga.

“ Mas, dah selesai nih, jangan ngelamun terus! Bagaimana menurutmu?”serunya padaku, “ Sebentar aku lihat” jawabku.

Mulai kuputar video yang dibuatnya, cukup bagus menurutku. Dalam videonya menampilkan sebuah puisi dengan iringan musik. Beberapa kata dalam puisi itu berhasil menggetarkan hatiku.

“ Itu untukmu, mas” ucapnya tiba-tiba memecah lamunanku,

“Maksudmu?” tanya ku penuh heran.

“ Kamu, tidak lihat? Semua isi di puisi itu adalah perasaanku untukmu! Bagiku kamulah yang terindah, bahkan aku sendiri tidak lebih indah dari kedipan matamu!”,

“Oh, jujur. Ini bagus menurutku, aku menyukainya. Kemampuan editing dan puisi berhaasil kamu padukan dengan indah, terus tingkatkan!” jawabku dengan senyuman padanya.

Pukul 10.30 aku pamitan dari rumah Arvi, namun sebenarnya aku tidak langsung pulang melainkan berkumpul bersama beberapa sahabat baikku yang rumahnya kebetulan masih 1 perumahan dengan Arvi.

Jam satu siang aku sampai dirumah, kuletakkan semua barangku. Seperti biasa, solat, lalu makan. Seperti itulah yang aku lakukan, setelah makan siang pun aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidurku, rasa lelah setelah beraktivitas ditambah dengan hawa pedesaan yang sejuk membuat mataku terpejamkan.

Aku merasa berada di tempat yang asing, langit malam, tanpa pepohonan, sepi, yang ada hanyalah hamparan padang pasir kosong, namun bintang-bintang dan bulan tetap menghiasi langit.

Berbagai pertanyaan terus muncul dalam otakku, dimanakah aku? Tak lama kemudian hal yang aneh terlihat, cahaya bulan itu meredup. Hingga akhirnya bulan tersebut lenyap dan kudengar suara yang sangat kukenal “ Selamat Tinggal Matahariku” hanya itulah yang kudengar hingga aku terbangun ketika orang tuaku mengetuk pintu kamar untuk membangunkanku.

Bersambung . . .

4 comments

  1. Firdha · Januari 23, 2013

    lanjutkan kartono😀 hahaha

  2. nanda fitri · Januari 23, 2013

    bagian ke2nya mna ????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s